Selasa, 10 Juni 2014

Tugas 2

Nama               : Nico Purmalingga
NPM               : 18111213
Kelas               : 3KA25

TEORI BUDAYA

David Kaplan dan Robert A. Manners, 2002, The Theory of Culture, diterjemahkan oleh Landung Simatupang, Teori Budaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, xxi + 294 hlm. ISBN 979-09675-71-8.

Ringkasan Buku:

Antropologi: Metode dan Pokok Soal dalam Penyusunan Teori, David Kapplan memberikan ringkasan kepada kita bahwa ada dua hal pokok masalah antropologi, yaitu bagaimanakah bekerjanya berbagai sistem budaya yang berbeda-beda? Bagaimanakah maka sistem-sistem budaya yang beraneka ragam itu menjadi seperti keadaannya kini? Jadi, permasalahan utamanya adalah menjelaskan kesamaan dan perbedaan budaya, pemeliharaan budaya maupun perubahannya dari masa ke masa. Untuk melihat persamaan budaya, maka menggunakan kacamata psikobiologis, yaitu kesamaan bentuk dan pola budaya yang cenderung bertitik temu adalah pertumbuhan, perubahan atau perkembangan. Namun, jika melihat perbedaan budaya digunakanlah “infra-spesifik”, yaitu dengan mempelajari mekanisme, struktur, serta sarana-sarana di luar manusia (alat yang digunakan manusia untuk mentransformasikan dirinya sehingga dapat diketahui perbedaan keyakinan, perilaku, nilai, dan bentuk sosial antara kelompok). Hal inilah yang oleh antropolog disebut budaya. Menurut David Kapplan dan Manners, budaya adalah suatu golongan fenomen yang diberi muatan makna tertentu oleh antropolog dalam rangka menghadapi soal-soal yang mereka coba untuk memecahkannya. Dua alasan bagi antropolog untuk mempertahankan konsep budaya itu dan menjaganya agar tetap dibedakan dari struktur sosial, yaitu (a) organisasi sosial tidaklah merupakan sesuatu yang unik pada manusia, karena sistem sosial manusia adalah sistem sosiokultural yang sejati; dan (b) antropolog telah mempermasalahkan interaksi antara subsistem-subsistem atau institusi-institusi seperti struktur sosial, ideologi dan teknoekonomi sehingga budaya adalah nama yang tepat untuk menyebut sistem yang lebih besar dan induk dari subsistem. Ada dua reaksi para antropolog dalam menyikapi keragaman pengaturan budaya, yaitu (a) perbedaan budaya dipandang sebagai sesuatu yang ada begitu saja untuk dicatat atau sebagai variasi-variasi dalam suatu tema besar yang bernama relativisme budaya;  (b) dipersoalkan sehingga menuntut adanya teori.
Relativisme dan komparatif adalah dua hal yang berbeda. Relativisme cederung disebut sebagai tesis ideologisnya, sedangkan komparatif disebut sebagai tesis metodelogis. Budaya dalam pandangan kaum relativis adalah sebagai kebulatan tunggal dan hanya sebagai dirinya sendiri, sedangkan pandangan kaum komparativ adalah sebagai suatu  institusi, proses, kompleks atau ihwal, harus dibedakan dari matriks budaya yang lebih besar dengan cara tertentu sehingga dapat diperbandingkannya. Maka, yang benar dari pandangan ini adalah kaum komparatif karena tidak ada dua kebulatan sosiokultural yang benar-benar sama sehingga harus dipisahkan. Perbedaan lain, para relativis tercengkram oleh soal perbedaan, sedangkan para komparatif memperhatikan persamaan maupun perbedaan. Bagi relativ, setiap budaya adalah unik; sedangkan bagi komparatif tidak ada keunikan karena tertutup oleh kesamaan antarbudaya. Relativisme dipandang sebagai dasar metodelogis karena berguna sebagai peringatan dalam mempelajari budaya yang berbeda-beda sehingga agar tidak terpengaruh oleh prakonsepsi kebudayaan sendiri. Maka, komparativ ini hal penting dalam pembentukan teori karena dengan perbandingan ini diperlukan upaya penyeleksian. Maka Leach mengatakan jantung segala persoalan adalah teori.
Tipe struktural adalah suatu klasifikasi fenomen yang dikaji menurut cirinya yang penting dan menentukannya, ketika mendefinisikannya. Dua hal penting dalam struktural adalah bangunan yang mengandung teori, dan tipe stuktrural yang bervariasi. Masalah dalam pendefinisian teori adalah generalisasi, sedangkan generalisasi itu bemacam-macam jenisnya. Yang di maksud teori dalam antropologi disebut kuasi-toeri aatu teori semu (quasitheory). Ilmu terdiri dari penyataan empirik tentang fakta yang didapat dari pengamatan, obeservasi; dan pernyataan teoritik yang dipandang spekulatif serta dapat berubah dan berbeda seiring dengan pergerseran pendapat. Masalah-masalah khusus dalam pembentukan teori antropologi adalah masalah perbedaan konsepsi metodelogis dalam antropologi. Objektivitas pelaporan antropologis diupayakan dan ditingkatkan secara kumulatif dari masa ke masa sehingga mengurangi bias dan mengakui adanya standar nonpersonal. Dalam upaya pembentukan teori, salah satu hal terpenting adalah verstehen atau pemahaman dalam menjelaskan. Ada empat hal yang penting dalam verstehen: historisitas/ kesejarahan, sistem yang terbuka, isu-isu sosial dan ideologi.
Orientasi Teoritik yang akan dikaji empat pendekatan, yaitu evolusionisme, fungsionalisme, sejarah dan ekologi budaya. Keempat tersebut disebut orientasi teoritik karena keempat tersebut lebih dari sekedar metodelogi formal, tetapi belum merupakan teori yang utuh dan lengkap. Evolusionis pada abad kesembilan belas merupakan peletek dasar suatu disiplin yang tertata yang menghasilkan tiga pemikiran dasar dalam antropologi, yaitu diktum bahwa fenomena kebudayaan harus dikaji dengan cara naturalistik; premis tentang “kesatuan psikis umat manusia”, yakni perbedaan kultural antara dua kelompok tidak disebabkan oleh perbedaan kelengkapan psikobiologis, tetapi perbedaan sosial-budaya; dan penggunaan metode komparatif sebagai ganti teknik eksperimen dan laboratoris dalam ilmu ragawi. Kemudian, lahir pula evolusionisme modern (Childe, White dan Steward). Hasil pemikiran mereka antara lain: rekaman arkeologis menunjukkan keseluruhan pola perubahan bersifat evolutif dan progresif; bagan evolusi menjadi multilinear dari unilinear; adanya konsep dasar evolusi, yaitu perubahan terarah bukan perubahan siklis; evolusionisem spesifik, lahir pula tipe-tipe struktural.
Fungionalisme adalah paham yang menekankan penelitian etnografis, yaitu hubungan antara institusi-institusi atau struktur-struktur suatu masyarakat sehingga membentuk suatu sistem yang bulat. Tokohnya adalah Kingsley Davis. Dasar penjelasan fungsionalisme adalah asumsi (terbuka dan tersirat) bahwa semua sistem budaya memiliki syarat fungsional, atau memiliki kebutuhan sosial (pandangan Radcliffe Brown). Robert Merton memperkenalkan 2 konsep fungsi, yaitu fungsi manifes adalah konsekuensi obyektif yang memberikan sumbangan pada penyesuaian atau adaptasi sistem yang dikehendaki dan disadari oleh partisipan sistem tersebut; dan fungsi laten adalah konsekuensi obyektif dari suatu ihwal budaya yang tidak dikehendaki maupun disadari oleh warga masyarakat. Kesulitan dalam analisis fungsional adalah mempersoalkan pemeliharaan-diri sistem, ia tidak dapat menjelaskan perubahan struktural. Merton mengenalkan konsep dysfunction (disfungsi/fungsi negatif), yaitu suatu institusi negatif budaya dikatakan fungsional manakala memberikan andil bagi adaptasi atau penyesuaian sistem tertentu dan disfungsional apabila melemahkan adapatasi. Maka, timbullah syarat-syarat fungsional, yaitu (a) jaminan adanya hubungan yang memadai dengan lingkungan dan adanya rekruitmen seksual; (b) difernsiasi peran dan pemberian peran; (c) komunikasi; (d) perangkat tujuan yang jelas dan disangga bersama; (e) pengaturan normatif atas sarana-sarana; (f) pengaturan ungkapan afektif; (g) sosialisasi; (h) kontrol efektif atas bentuk-bentuk perilaku mengacau (dusruptif).
Ekologi budaya tidak hanya sekedar membicarakan interaksi bentuk-bentuk kehidupan dalam suatu ekosistem tertentu, melainkan membahas cara manusia  (berkat budaya sebagai sarananya) memanipulasi dan membentuk ekosistem itu sendiri. Ciri-ciri dalam ekologi budaya adalah memperhatikan adaptasi dalam dua tataran, yaitu sehubungan dengan cara sistem budaya beradaptasi terhadap lingkungan totalnya, sebagai konsekuensi adaptasi sistemik itu, maka perhatian terhadap cara institusi-institusi dalam sesuatu budaya beradaptasi atau saling menyesuaikan diri. Adaptasi ini berfungsi untuk melihat kemunculan, pemeliharaan dan transformasi berbagai konfigurasi budaya. Umumnya, ekologi kultural cenderung menekankan teknologi danekonomi dalam analisis terhadap budaya, karena dari sisi waktu dan sisi budaya akan terlihat jelas perbedaannya. Menurut Charles O. Frake ekologi budaya memberikan penekanan penting pada konseptualisasai dari tafsir pribumi mengenai lingkungan (faktor ideologis dan psikologis). Dua konsep sentral ekologi budaya dalah ekologi lingkungan dan adaptasi. Pandangan posibilisme lingkungan (environment possibilism), yaitu pandangan yang memperhatikan ciri-ciri habitat alami bukan sebagai penyandang peran penentu melainkan peran pemberi kemungkinan atau pemberi batas. Kaitan lingkungan dengaan dengan budaya adalah lingkungan → budaya, atau budaya → lingkungan, maka lingkungan dan budaya adalah dua hal yang timbal balik dan tidak bisa dipisahkan. Adaptasi ini sebagai proses yang menghubungkan sistem budaya dengan lingkungannya. Dengan adanya pergeseran ekologi lama menuju ekologi baru, maka budaya sebagai obyek kajian hendak diganti dengan populasi organisme sebagai unit dasar analisis. Dalam pergerseran ini budaya sangat penting sebagai mekanisme adaptasi manusia agak diturunkan hingga sebagai salah satu segi dalam perilaku manusia.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar